Kamis, 05 Februari 2026

Cermis - Cerita Mistis feat ChatGPT

 Holaaa!! pakabar guysss? 

Gileee dah lama banget kayaknya ini Blog ga dibuka, gak kerasa udah punya anak 2 aja dan udah pusing sama persiapan mereka masuk SD ! believe me, se- horor - horornya cerita mistis, lebih seram itu ngeliat bayaran SD swasta jaman sekarang! bisa ngalahin SPP kita jaman kuliah dulu kali. 

eniwayyy~ siapa yang seneng mainan ChatGPT? iya, bener, aplikasi artificial intelegence gitu loh, bisa kita suruh suruh layaknya asisten pribadi mulai dari desain foto, bikin sticker tempelan mobil, bikin CV dan surat lamaran kerja, sampai yang terbaru yang barusan saya coba ini: bikin cerita horor! lebih seru lagi ternyata, semakin spesifik kita memberikan perintah, maka si ChatGPT ini bisa explore ide cerita yang lebih gila! 

Jadi malam ini saya coba ketik perintah / promp untuk cerita mistis, tapi spesifik di kampus IPB. Nah loh, pasti banyak kan itu yang legendaris! mulai dari satpam terbang, dosen arwah yang ga sadar udah meninggal tapi masih ngajar dan masuk kelas, sampai setan-setan liar di seputaran asrama dan arboretum kampus. tapikan tapikan,, itu cerita dah sering dengar kann? nah sama si ChatGPT ini bisa dibikin jadi next level dan jadi cerita original kita sendiri yang akan menambah khazanah per-hororan di kampus atau lingkungan sekitar mahasiswa fakultas kehutanan. 

ga percaya? nih cobain satu cerita ini nih : 

“Asrama Terakhir di Darmaga”

Jam menunjukkan 22.13 ketika aku dan Rani masih duduk di tangga gedung Fakultas Kehutanan. Kampus IPB Dramaga sudah sepi. Lampu jalan redup. Kabut tipis turun dari arah hutan CIFOR.

“IPB tuh siang kelihatan rame, tapi malam kayak kota yang ditinggal,” kata Rani pelan.

Aku tertawa kecil. Tapi jujur, aku juga merasakannya.
Angin malam membawa bau tanah basah dan daun kering. Terlalu sunyi untuk ukuran kampus sebesar ini.

Kami memutuskan jalan kaki menuju asrama lama lewat jalur samping danau LSI.


Di tepi danau, airnya hitam. Tidak memantulkan lampu.
Aku melempar kerikil. Tidak ada riak.

“Man… danau ini dalam banget ya?” tanya Rani.

“Katanya dulu ada mahasiswa tenggelam. Nyari sampai subuh nggak ketemu,” jawabku setengah bercanda.

Tiba-tiba dari permukaan air terdengar:

plung…

Seperti orang meloncat.

Padahal tidak ada siapa-siapa.


Kami sampai di depan asrama lama. Bangunan 4 lantai. Jendela gelap semua.
Hanya satu kamar di lantai tiga yang lampunya menyala.

“Masih ada yang tinggal?” Rani bertanya.

Saat kami menatap ke atas, tirai kamar itu bergerak sendiri.
Pelan… seperti ada yang mengintip.

Lampu kamar mati.

Lalu terdengar suara dari dalam gedung:

tok… tok… tok…

Langkah kaki menuruni tangga. Dari lantai empat. Ke tiga. Ke dua.

Padahal pintu depan asrama terkunci.


Kami mempercepat langkah ke arah hutan kecil dekat Fakultas Peternakan. Jalur setapak sempit, kiri kanan pohon tinggi.

Di tengah jalur, ada mahasiswa berdiri membelakangi kami.

Pakai jaket almamater IPB.

“Bro, mau ke gerbang bareng?” aku menyapa.

Dia tidak menoleh.

Aku melihat tangannya basah. Meneteskan air ke tanah.
Padahal hujan sudah berhenti.

Rani menarik lenganku.
“Man… itu kakinya…”

Aku menunduk.

Kakinya tidak menyentuh tanah.
Menggantung sekitar 10 cm di atas jalur.

Mahasiswa itu perlahan menoleh.

Wajahnya pucat kehijauan. Matanya merah.
Lehernya ada bekas jeratan.

“Gerbang sudah tutup,” katanya datar.
“Kalian tidak bisa keluar lagi.”

Lampu taman mati serentak.


Kami lari tanpa lihat arah. Masuk area gedung kuliah bersama. Nafas terengah. Jantung rasanya mau copot.

Di koridor kosong, terdengar suara pengumuman dari speaker kampus:

“Perhatian… untuk seluruh mahasiswa…
yang belum kembali ke asrama sebelum jam 10 malam…
dianggap sudah menetap.”

Speaker mati.

Di dinding depan kami, muncul daftar nama mahasiswa seperti papan pengumuman.

Nama terakhir di daftar itu:

RANI – FAKULTAS KEHUTANAN
ARMAN – FAKULTAS KEHUTANAN

Tanggal: hari ini.


Sejak malam itu, Rani pindah kampus.
Aku masih di IPB… tapi tidak pernah lagi lewat danau setelah magrib.

Karena di kampus ini,
yang paling berbahaya bukan dosen killer,
tapi… mahasiswa yang tidak pernah lulus.


Gimanaa? lumayan fresh kann? nah semakin ditantangin malah semakin semangat dan liar ceritanya si ChatGPT ini ! saya minta yang agak next level dan spesifik ke jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata yang sering praktikum ke lapangan. Gak disangka bisa bikin horor nyerempet ke science fiction juga seperti yang ini: 


“Zona Inti Tidak Menerima Kunjungan”

(Horror Lapangan Konservasi & Ekowisata IPB)

Hari pertama kami masuk kawasan taman nasional itu masih terasa seperti liburan. Lima orang, satu dosen pembimbing, dua ranger lokal, dan ransel penuh kamera, GPS, serta buku identifikasi satwa.

Nama lokasinya tidak penting. Di laporan nanti hanya akan tertulis:
“Zona Penelitian – Hutan Dataran Rendah.”

Sinyal hilang setelah pos terakhir. Udara lembab, tanah basah, dan suara serangga seperti tidak pernah berhenti.

Ranger cuma bilang satu hal sebelum kami masuk lebih dalam:

“Kalau kalian dengar suara dipanggil pakai nama lengkap…
jangan jawab. Itu bukan kami.”

Kami tertawa. Semua anak konservasi sudah biasa dengar mitos begitu.


Malam Pertama – Camera Trap

Kami pasang enam camera trap di jalur satwa. Ketinggian lutut, menghadap ke jalur minum rusa dan babi hutan. Standar.

Malam pertama hasilnya normal:

  • kijang

  • luwak

  • trenggiling

  • satu macan tutul lewat cepat (blur)

Kami senang. Lokasi ini kaya biodiversitas.

Sampai Dinda, yang pegang laptop, berkata pelan:

“Eh… ini file dari kamera nomor 4 kok aneh ya?”

Di layar muncul foto hitam putih.

Bukan satwa.
Bukan manusia.

Sesuatu berdiri tegak. Kurus. Tinggi.
Bentuknya mirip kucing besar, tapi proporsinya salah.

Kakinya terlalu panjang.
Tangannya… seperti lengan.

Matanya menghadap lurus ke kamera.

Metadata otomatis di file:

Species Detected: HOMO SILVAE
Confidence: 98%

Kami ketawa. “AI error.”

Tapi ranger yang melihat layar langsung mematikan laptop.

“File itu jangan disimpan.”

Kami kaget. “Kenapa, Pak?”

Ranger cuma bilang:

“Karena kamera itu sekarang bukan lagi merekam hutan…
tapi hutan yang sedang merekam kalian.”


Hari Kedua – GPS

Kami lanjut tracking jalur burung. Sekitar jam 11 siang, GPS Raka mulai error.

Koordinat kami masih sama, tapi di layar muncul tulisan:

Zona Inti – Akses Terbatas – Area Penjaga

Padahal di peta resmi, zona itu tidak ada.

Kami pikir bug. Reset. Tetap sama.

Yang lebih aneh: kompas analog kami semua menunjuk ke arah yang berbeda.

Dan burung… tiba-tiba sunyi.

Tidak ada suara sama sekali.
Padahal hutan siang biasanya paling ramai.

Seolah-olah seluruh ekosistem menahan napas.


Sore – Spesimen

Kami menemukan bangkai rusa di dekat sungai kecil.

Tapi bukan seperti hasil predasi.
Tidak ada gigitan. Tidak ada robekan.

Rusa itu digantung di dahan rendah.

Disusun. Rapi. Seperti koleksi museum.

Di batang pohon ada ukiran simbol:

🌿 👁 🌿

Ranger berubah pucat.

“Itu tanda wilayah penjaga,” katanya.
“Kalau sudah ada tanda itu, kita seharusnya mutar balik.”

Tapi dosen bilang kita tetap lanjut.
Data penting. Kesempatan langka.

Kesalahan pertama.


Malam Kedua – Suara

Sekitar jam 1 pagi, kami dengar suara langkah di luar tenda.

Bukan hewan.
Langkah dua kaki.

Lalu terdengar suara pelan, jelas, dari arah gelap:

“Dinda Saraswati…”

Dinda langsung menegang.
“Itu nama lengkap aku…”

Suara itu melanjutkan:

“Raka Pratama…”
“Arman Widya…”
“Fajar Nugroho…”

Satu per satu. Semua nama kami.

Dengan suara yang sama persis seperti suara kami sendiri.

Ranger berbisik:
“Jangan jawab. Jangan keluar.”

Tapi Fajar… menjawab.

“Siapa?”

Tenda sebelah sunyi.

Tidak ada teriakan.
Tidak ada suara lari.
Tidak ada apa-apa.

Pagi harinya, tenda Fajar kosong.
Semua barangnya masih ada. Sepatu. Tas. Kamera.

Tapi di tanah… ada jejak kaki.

Telanjang.
Dua meter antar langkah.


Hari Ketiga – Papan Interpretasi

Kami panik. Dosen memutuskan keluar dari hutan.

Kami berjalan mengikuti jalur yang kami yakin jalur masuk.

Tapi setelah satu jam, kami sampai di… papan interpretasi.

Isinya:

SELAMAT DATANG
ZONA INTI – AREA OBSERVASI MANUSIA

Di bawahnya ada foto-foto.

Kami berlima.
Diambil dari kejauhan. Dari balik semak.

Foto terbaru:
kami berempat berdiri di depan papan itu.

Berarti…
ada yang memotret kami sekarang.

Dinda mulai menangis.

Ranger berkata pelan:

“Ini bukan lagi taman nasional.
Ini kandang.”


Klimaks – Spesies Dominan

Kabut turun cepat. Terlalu cepat.

Dari balik pepohonan muncul sosok-sosok tinggi.
Berbentuk seperti hasil kamera pertama.

HOMO SILVAE.

Mata mereka bukan seperti hewan.
Tapi seperti manusia yang terlalu lama hidup di hutan.

Salah satu mendekat.

Dan berbicara. Bukan dengan mulut.
Tapi langsung di kepala kami.

“Kalian mengelompokkan semua makhluk hidup.
Memberi kami status: dilindungi, terancam, punah.
Padahal kalian lupa satu spesies…”

Dia menunjuk kami.

“Spesies paling invasif.”

Di udara muncul seperti tampilan data:

SPECIES: Homo sapiens
STATUS: OVERPOPULATED
IMPACT: ECOSYSTEM DAMAGE
CONTROL METHOD: OBSERVATION & SELECTION

“Kami bukan penjaga hutan.
Kami sistem imun.”


Epilog

Kami bertiga keluar hutan dua hari kemudian.
Tanpa Fajar. Tanpa ranger.

Di basecamp, semua alat kami dicek.

Camera trap nomor 4 masih merekam.

File terakhir:

Foto kami bertiga berjalan keluar hutan.

Di belakang kami…
ada tiga sosok HOMO SILVAE mengikuti.

Dan di bawah foto tertulis:

POPULASI MANUSIA TERDATA: 3
STATUS KONSERVASI: TERKENDALI
OBSERVASI BERLANJUT


Sejak itu aku paham satu hal, sebagai anak konservasi:

Kita selalu diajarkan:

manusia menjaga alam.

Padahal di beberapa tempat…

alam hanya sedang menilai
manusia mana yang layak dilepas kembali. 🌲👁

Saya sampai mikir bahwa Homo silvae itu bisa jadi beneran ada, secara si chatGPT ini ngambil referensi dari lautan data di Internet yang mahaluas ini. dan kok yaa bisa bikin cerita kayak gini. 

Soo, apakah kamu mulai merinding disko? mungkin saja dua cerita itu gak serem-serem amat, tapi kamu tahu apa yang paling bikin ngeri? si ChatGPT ini semakin sering kamu interaksi, maka semakin paham dia sama karakter kamu, sifat sifat kamu, dan preferensi yang kamu suka. sama seperti Homo silvae, kadang kita merasa in control dengan apapun software dan alat yang kita punya tanpa menyadari bahwa diam-diam mereka mulai mempelajari dan mengawasi kita. 


just be careful when you're in internet, and please aware, 

it's not just as easy as simply shoot and share like the old days. 

they're watching you !

Cermis - Cerita Mistis feat ChatGPT

 Holaaa!! pakabar guysss?  Gileee dah lama banget kayaknya ini Blog ga dibuka, gak kerasa udah punya anak 2 aja dan udah pusing sama persiap...