Jumat, 04 November 2011

Say it Loud : B.A.D.U.Y !! :)

Happy November guys! gimana akhir bulannya kemarin? seruuu? tepat pada jam segini hari jumat yang lalu secara tiba-tiba saya mendapatkan sms dari dosen pembimbing kedua saya: 

"sabtu-minggu ada acara? mau ikut gak jadi asisten praktikum ke Baduy?"

dan langsung saya balas: 

"MAAAAUUUUUUUU!!!!!"

gak dapet gaji asisten pun saya rela.

trip gratisan gitu loh! dapet makan, transport, dan tempat menginap. yaah,,harus sedikit kerja juga sih, saya harus membimbing dan menemani satu kelompok praktikum untuk pembuatan jalur wisata. Kerja yang menyenangkan, bisa nyambi hunting foto dan kesempatan cuci mata ngecengin adek kelas yang cantik-cantik, terus terang itu adalah tawaran kerja yang paling sulit untuk dilewatkan~ :)

kita berangkat dari kampus jam setengah tujuh, ngaret satu setengah jam gara-gara banyak peserta yang bangun kesiangan, termasuk asistennya. saya termasuk golongan telat bersama sejoli brutal bernama  neng jerawat  dan mas brewok . gak sadar sudah ditunggu dosen yang siap ngamuk-ngamuk, dengan muka polos gak berdosa kita malah sempet-sempetnya mesen bubur ayam dulu di depan meeting point~ :)

seperti umumnya mahasiswa, kita selalu menggunakan transportasi kebangsaan yang paling keren, paling nyaman, paling adem, paling luas, punya sun-roof yang besar dan bisa duduk selonjoran atau sambil tidur-tiduran. yup! kita menggunakan truk pasir :


ternyata jalurnya mudah di ingat, dari kampus IPB Darmaga lanjut luruus saja ke arah jasinga-banten, lalu belok di simpang tiga jasinga ke arah desa Ciboleger. perjalanan dari kampus ke baduy memakan waktu kurang lebih empat jam saja. jalurnya mulus, dan cukup luas untuk dilalui dua truk sambil kebut-kebutan.jalur ini akan berakhir di pelataran parkir luas di desa Ciboleger, ditandai dengan adanya tugu selamat datang ini:


 nah, kalau sudah melihat tugu ini, berarti perkampungan baduy sudah dekat! kita tinggal mendaki sekitar 500 meter lagi untuk menuju kawasan Baduy Luar.




pemandangan yang kontras terlihat begitu melewati gerbang ini. bangunan beton yang tadinya berdiri di sepanjang jalur desa Ciboleger berganti dengan rumah panggung berdinding bilik di kiri-kanan jalan. tepat di ujung jalan desa berdiri barisan leuit, lumbung padi tradisional sunda yang terbuat dari bambu


saatnya istirahat, makan siang dan pembagian kelompok.  secara sukarela dan dengan senang hati saya mengajukan diri untuk menjadi pendamping kelompok 10. kelompok ini merupakan kelompok yang dihindari para asisten karena memiliki jalur paling jauh ke arah perkampungan baduy dalam. tapi gak masalah, karena saya sudah berniat untuk hunting foto dan melihat deretan leuit serta jembatan bambu di ujung desa Gajebog, saya sengaja mencari kelompok yang paling jauh. Oiya, jalur kami melewati tiga desa, start di desa Kaduketug I, check point di desa Kaduketug II dan berakhir di desa Gajebog, 5 kilometer dari perbatasan kawasan baduy luar. 

sambil menunggu briefing, saya melihat-lihat suvenir yang ditawarkan. si neng jerawat tternyata sudah asyik mojok bersama akang-akang penjual suvenir sambil sibuk memilih-milih gelang yang terbuat dari anyaman kulit kayu: 

 ibitmu
murah meriah! sepuluh ribu dapat tiga, kata dia. dasar ibu-ibu, baru dateng langsung aja yaa belanja. selain gelang anyaman,  terdapat juga lonceng kayu dari buah kluwek, tas anyaman, dan slayer biru indigo khas motif baduy. semuanya bisa didapat dengan harga satuan tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah! pantas saja nggak cuma dia yang kalap, peserta praktikum juga banyak yang gak tahan ingin belanja oleh-oleh, apalagi kalau dapat bonus kenalan dengan akang-akang suku baduy dalam yang ternyata gak kalah ganteng dari abege-abege kota besar: 


dari pakaian yang dikenakan bisa ditebak kalau pemuda ini berasal dari suku baduy dalam. ikat kepala putih, kaus hitam, dan bahan sarung tenun yang dipakai sebagai pengganti celana. berbeda dengan pemuda baduy luar yang mengenakan pakaian lengkap dan ikat kepala biru-indigo sebagai ciri khas mereka. suku baduy dalam masih sangat kuat memegang aturan adat seperti tidak boleh mengenakan alas kaki, tidak boleh mandi dengan sabun, melarang penggunaan detergen, alat-alat elektronik, dan tidak boleh naik kendaraan jika ingin bepergian. suku baduy dalam adalah pejalan kaki yang handal. saya masih ingat waktu SD dan masih tinggal di jakarta, saya bertemu seorang pemuda baduy yang menawarkan madu ke ayah saya. saat diajak bareng naik bajaj menuju terminal dia menolak dengan tegas dan mengatakan akan pulang jalan kaki ke kampungnya. Jakarta-Rangkas Bitung sejauh lebih dari 100 Km hanya ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu sehari semalam! luar biasa!

beranjak dari tukang oleh-oleh, saya menghampiri si mas brewok yang sedang asyik mengunyah sesuatu.yang mirip-mirip hiasan gantung karnaval  17 agustusan.  penasaran, saya memutuskan untuk melihat lebih dekat : 


ternyata itu adalah jambu air yang ditusuk menggunakan tulang daun kelapa. pola hidup masyarakat yang dekat dengan alam menjadikan mereka menggunakan cara lain untuk menghindari penggunaan kantong kresek. benar-benar unik dan kreatif ! satu tusuk yang berisi lebih dari sepuluh jambu air tersebut dapat diperoleh dengan merogoh kocek sebesar 2000 rupiah saja~ :)

pukul 2 siang! saatnya mulai praktikum dan bergerak menuju lokasi. saya mendapatkan kelompok yang untungnya berisi orang-orang cerewet dan hobi jalan-jalan semuanya. klop! perjalanan yang jauh menuju lokasi tidak begitu terasa karena sibuk bercanda (atau berantem) sambil sesekali mengagumi kecantikan gadis baduy yang berpapasan di jalan atau yang sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya: 



tidak sampai dua jam data-data yang dibutuhkan sudah mereka peroleh. sisa waktu satu jam sebelum maghrib saya gunakan untuk mengajak mereka hunting foto dan ngobrol-ngobrol dengan warga.kami beruntung, sore itu kami bertemu banyak ibu-ibu yang sedang sibuk menenun di teras rumah mereka: 





alat tenun yang digunakan masih sangat sederhana, empat batang kayu, tiga untuk penahan dan satu kayu sisir untuk menyelipakan benang, serta roda bambu untuk memintal benang. satu lembar kain sepanjang satu meter setengah dapat diselesaikan dalam waktu sepuluh hari. 




satu lembar kain tenun selebar sajadah dihargai dua ratus lima puluh ribu rupiah, harga yang cukup pantas untuk kain buatan tangan yang dibuat dalam waktu yang lama, behubung lagi kere, yah..saya pass dulu sajalah~ :)

lanjut berjalan ke ujung desa, saya menemukan landmark baduy yang wajib dikunjungi wisatawan yang datang kemari: 

jembatan bambu.








jembatan bambu sepanjang dua puluh lima meter ini merupakan satu-satunya penghubung untuk menuju baduy dalam. uniknya, jembatan ini hanya diikat dengan ijuk serta disangga batang-batang bambu yag bergantungan di dua cabang pohon besar pada setiap sisi sungai. praktis, jembatan ini memiliki struktur yang mirip dengan jembatan gantung sehingga selalu berayun kiri-kanan saat digunakan untuk menyebrang. walaupun demikian, jembatan ini sangat kuat dan telah berdiri selama bertahun-tahun. 

di seberang jembatan saya menemukan pemandangan yang sangat menarik: 

Leuit. 

 
belasan lumbung padi berderet rapi di seberang sungai membentuk suatu perkampungan kecil apabila terlihat dari jauh. berdasarkan cerita masyarakat diketahui bahwa leuit-leuit ini memang sengaja dikumpulkan di satu tempat diluar desa agar cadangan pangan mereka tetap terjamin apabila sewaktu-waktu terjadi bencana seperti kebakaran di desa. 

mulai gelap. saya melirik jam yang menunjukkan pukul setengah enam. lewat satu setengah jam dari jadwal kembali ke penginapan. melihat waktu yang semakin sore dan langit yang mulai mendung, saya memutuskan mengajak kelompok untuk segera pulang. melintasi jalur tanah pada kondisi hujan merupakan urusan yang tidak gampang, pikir saya. 

benar saja, hujan lebat turun saat kami masih berjarak 2 km dari penginapan. nanggung, akhirnya kami memutuskan untuk menerobos sambil bermain hujan dan sesekali bermain perosotan di jalur tanah yang cukup curam. 

menyenangkan! jarang-jarang kan bisa kayak begini di kota~ :)

kami sampai di penginapan menjelang isya dengan kondisi basah kuyup dan belepotan lumpur. setelah disemprot dosen karena disangka keluyuran dulu, saya cuma nyengir ke arah kelompok 10 dan dibalas mereka dengan cengiran yang nggak kalah jailnya.

"asik kan? besok lagi yuk" kata saya

dan mereka menjawab: 

"Ogaaaaahhhh!! gak lagi-lagi deh kak!" 

setelah pamitan untuk ganti baju, saya berniat untuk kembali lagi kesana besok pagi.

keinginan saya terkabul, data GPS mereka blank dan ada data-data yang kurang sehingga terpaksa mereka harus kembali lagi ke desa Gajebog untuk mengambil koordinat jalur besok pagi~ :D :D :D 

setelah sholat subuh, saya standby di depan penginapan dan melihat muka kusut-lemas-baru-bangun-tidur -gara-gara-begadang-rekap-laporan mereka. 

sambil tersenyum jail saya berkata: 

     "yuk berangkat! :)"


it's fun, li'l bit exhausting but not-too-far trip

it just like simply shoot and share ! :)

2 komentar:

  1. yeey~ lagian jarang main ke Lab RAE sih! hayuk atuh ngasprak lagi~ :D

    BalasHapus